Perpisahan


by : Ahmad Wahib
 
Han,
kalimat ini kalimat biasa
dia bukan puisi
bukan pula prosa
kalaupun disebut puisi
itu sekedar puisi tanpa isi
kalaupun disebut prosa
itu sekedar cetusan rasa

Han, pernah kita padukan ikrar
membina pertiwi tanah tersayang
Han, pernah kita lepaskan janji
pembaharuan mental perlu ditentang

kehadiran kita sebagai muslim
kita nilai sebagai kebetulan
untuk itu kita cari
Islam menurut kita sendiri
Islam menurut kamu, dan
Islam menurut aku sendiri

arena telah kita pilih
HMI sebagai saluran
bertahun-tahun kita membina
satu generasi muslim kita pertaruhkan

untuk umat Islam
kegagalan HMI kegagalan satu generasi
keberhasilan HMI keberhasilan satu generasi
dalam HMI
kita temakan pemberontakan
pada kebekuan dan kebiasaan
pada kegandaan dalam menilai
pada ketertutupan dalam berpendapat
pada formalisme dalam beragama

saluran telah kita pilih, Han
HMI sebagai: alat, bukan tujuan
tapi rupanya
lain di niatan, lain di kejadian
kita yang menempati kamar idiil
yang ikut naik turun dalam degup jantungnya
sudah masuk terlalu jauh
dalam lika-likunya himpunan ini
kita masuk ke dalamnya
dia masuk dalam diri kita
kita cinta
karena itu kita bisa mencipta

kita belai dia dengan embun segar
bagaikan membelai diriku sendiri…, bagiku
sepertinya sedang membelai sang pacar…, bagimu
bagi kita, Han.

HMI yang lahir di masa kini, bukan buat masa lalu
dia ada kini buat nanti
kita desakkan perobahan-perobahan
kita jelaskan kemungkinan-kemungkinan
bagi suatu senyum kecerahan

sebagaimana prinsip kita
warna yang beraneka rona kita hormati
bentuk yang beraneka ragam kita terima
pluralisme… itulah prinsip kita
tapi rupanya, Han
pluralisme bukan satu-satunya anutan
anti pluralisme juga anutan kawan
dalam himpunan tempat hati tertawan

bagi kita
theist dan atheis bisa berkumpul
muslim dan kristiani bisa bercanda
artist dan atlit bisa bergurau
kafirin dan muttaqien bisa bermesraan
tapi
pluralist dan anti pluralist tak bisa bertemu
dia menyangkut milik manusia yang paling tinggi
awal dan akhir
pribadi
dia menyangkut keterbukaan dan ketertutupan
dia menyangkut adanya pribadi atau lenyapnya pribadi
bagi kita
tak ada  pribadi, tak ada manusia
kemerdekaan adalah hakikat eksistensi manusia.
ini masalah dasar bagi kita
apalagi bagi organisasi kader
yang sasarannya: manusia dengan kepribadiannya

karena itu
perpisahan tak bisa terelakkan
anti pluralist menentukan jalannya
kaum pluralist memilih lintasannya
yang memintas

tapi niatan lain dengan kejadian
dalam awal perpisahan ini, ternyata:
HMI bukan sekedar alat
yang bisa diganti dengan lain alat
HMI bukan sekedar saluran
yang bisa ditukar bergantian
terasa… HMI telah menjadi nyawa kita
HMI telah ada dalam urat dan nadi kita
dia ada dalam keriangan kita
dia ada dalam kesusahan kita
dia ada dalam kecabulan kita
dia ada dalam kekanak-kanakan kita
HMI telah menghisap dan mengisi jaluran-jaluran darah kita

walaupun begitu perpisahan ini kita lakukan juga
kita tak boleh tercekam oleh emosi
yang akan membuat kita terus termangu,
keragu-raguan dalam perpisahan
relakanlah segalanya
buat yang masih tinggal

kerja-kerja kita yang tak pernah selesai
yang disusun baru di tingkat awal
semoga diteruskan
bagi kita
HMI belum menemukan dirinya
banyak perobahan-perobahan perlu dilakukan
yang harus dirintis atau diteruskan
oleh yang tinggal di belakang kita

kita tengadahkan muka ke atas
ke alam bebas dan lepas
di mana pluralisme bisa hidup
dan anti pluralisme tak menemukan ruangnya
di mana perkawinan pendapat bukan pengkhianatan
di mana pertentangan pendapat bukan pengacauan
di mana pembaharuan sikap bukan kejelekan

kita cari ruang bebas
di mana warna yang beraneka adalah rahmat
di mana bentuk yang beragam adalah hidayat
di mana konflik menjadi pertanda kemajuan
di mana untuk masuk tak usah bayar terlalu mahal… pribadi

kesanalah, Han, kita menengadah
di mana pendapat-pendapat bisa saling bertentangan
di mana pendapatku pendapatmu bersaingan
dalam kompetisi yang mengasyikkan
di mana pendapatmu, pendapatnya dan pendapatku
dimungkinkan bercanda dan bercumbuan
dalam saling penghormatan

walaupun begitu
kita kaum pluralis yang konsekuen
perlu tundukkan kepala sebentar
mengusap mata sekali
mengheningkan hati sejenak
buat menerima…
… sebuah perpisahan
dengan roh kita sendiri
HMI

– 14 Agustus 1969 dari Buku Pergolakan Pemikiran Islam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s