Menyemarakkan Bubar


 segera aku bersiap untuk menghadap kepada malam yang dingin,

dan malam yang dingin berjalan menuju kesunyian

Bermodal informasi dari seorang kawan, aku segera mereka-reka jadwal untuk dapat mengunjungi suatu festival, Festival Teh Internasional 2012 yang diselenggarakan pada tanggal 12-14 Oktober 2012 di Balaikota Surakarta, menurut jadwal festival mulai buka dari pukul 10.00 hingga 21.00, dan akhirnya aku dapat mengunjungi festival tersebut pada hari terakhir penyelenggaraan. Tanpa basa-basi aku masuk ke arena festival dan disambut oleh alunan musik yang memekakkan telinga dan ketika itu penanda waktu tertulis angka 19.30 Petang, aku pun berjalan-jalan di arena Festival Teh Internasional itu, dan aku merasa cukup puas dengan pemandangan yang ada. Pandangan aku segera tertuju pada Music Perfomance yang mangkrak di depan balaikota mengundang untuk disapa, duduk santai di depan panggung yang tingginya hanya sekitar 60 sentimeter. Namun hanya bertahan sekitar 15 menit saja, lalu aku pergi.

Segera menyambangi angkringan pojok Alun-Alun Utara Surakarta tepatnya di samping pasar Cinderamata, kedatangan aku disambut dengan puluhan sepeda motor yang terpakir kurang rapi, namun ada yang sedikit berubah dari tempat ini, terlihat satu gerai ATM dari sebuah bank berplat merah dengan warna dominan biru – Bank Mandiri – tepat di belakang angkringan tersebut. Sang penjual memberi sambutan dengan melontarkan senyum ramah, seorang wanita gemuk separuh baya dengan bentuk yang masih sama seperti terakhir kali bertemu beberapa bulan yang lalu, hanya saja terlihat sedikit lebih kurus. Dihadapannya dipajang berbagai macam makanan khas angkringan yang menantang untuk ditelan, sego kucing, sate telor puyuh, puyuh goreng, tahu, tempe dan gorengan-gorengan dan lainnya tersusun rapi, dan sepertinya sang penjual memiliki skill men-display barang dagangan yang lumayan apik.

Tanpa ragu sang penjual menanyakan kabar, karena memang sudah lama tak jajan di sana, dan jawaban formalitas keluar dari mulut aku : baik-baik saja. Seperti tak puas dengan jawaban aku, sahutnya, “kok lama gak kelihatan?” langsung aku sambut cukup dengan satu lemparan senyum saja. Selesai basa-basi, aku memesan minuman favorit di angkringan itu, segelas the manis hangat. Namun juga tak melupakan minuman tape hangat yang aku pesan sekaligus. Jadi, sekali pesan dua gelas minuman sekaligus.

Sambil menunggu pesanan, aku mencomot tiga nasi kucing, satu tahu goreng,  puyuh nungging, dan tak lupa satu tusuk sate telur puyuh. Tak lama, pesanan pun datang, segelas teh manis hangat dan segelas tape hangat. Seperti kegirangan, segera aku nyruput teh manis, rasanya tak berubah, sama seperti beberapa bulan lalu terakhir berkunjung. Sembari menikmati sego kucing dan gorengan aku melemparkan pikiran ke alam bebas.

Dalam suasana pikiran yang bebas tiba-tiba aku teringat cerita dulu mengenai pertunjukan Layar Tancap di sebuah lapangan di desa. Kabar mengenai pertunjukan itu sudah santer terdengar beberapa minggu sebelumnya. Warga pun sudah tak sabar untuk menyaksikan, ketika itu pertunjukan Layar Tancap telah menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi masyarakat

Masyarakat berduyun-duyun segera memadati lapangan, layar sudah dibentangkan, rol film siluloid telah dipasang, riuh suara warga yang tak sabar ingin segera menyaksikan film yang akan diputar, gambar segera ditembakkan ke layar yang telah dipersiapkan. tanpa komando, warga secara otomatis menempatkan diri dengan sudut pandang yang nyaman. sebelum film dimulai ditayangkan dulu sebuah iklan rokok. maklum, memang sebuah perusahan rokok yang mensponsori pertunjukan tersebut. Film pun akhirnya dimulai, suara riuh warga nyaris tak terdengar lagi, tiba-tiba warga khusyuk masyuk tenggelam dalam ritme alur film.

Ditengah asyiknya warga menikmati sajian layar tancap, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, tanpa intro gerimis. sontak, warga yang tadinya khusyuk menonton langsung kalang kabut menyelamatkan diri dari hujan dan pulang ke rumah masing-masing, operator layar tancap pun disibukkan dengan penyelamatan alat-alatnya. dan akhirnya pertunjukan layar tancap itu bubar, dan hujan yang membubarkan, hujan pula yang menyemarakkan bubarnya pertunjukkan layar tancap.

Dan aku seperti hujan itu, ketika mengunjungi Festival Teh Internasional di Balaikota Surakarta, tetapi aku tidak datang untuk membubarkan, namun hanya menyemarakkan Festival yang bubar sebelum waktunya untuk bubar. Bubarnya Festival itu ditandai dengan kosongnya stand-stand yang ada, Music Perfomance dari sebuah kelompok musik yang menghibur diri mereka sendiri dan jumlah penonton yang tak lebih banyak dari penampil di atas panggung, hanya tiga orang penonton yang duduk leseshan di depannya, juga satu truk kosong di depan Balaikota yang segera diisi oleh para pekerja dengan barang-barang dari Festival.

Bubarnya festival memang menyisakan kosong, dan kosong itu tidak mesti hampa, bahkan dalam hidup kita selalu memerlukan kosong, dan sering mulai sesuatu dari yang kosong, tapi sekali lagi, kosong itu tak mesti hampa, keduanya beda. Dalam berhubungan dengan Tuhan pun kita memerlukan kekosongan, kekosongan jiwa dari hal-hal yang merusak kemesraan dengan Sang Pencipta. Di dalam jiwa yang kosong itulah hanya ada antara hamba dan Sang Pencipta. Kosong bukan untuk dikutuk tetapi dinikmati. Dan dengan adanya kosong kita dapat mengisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s