Melankoli [Fragmen#1]


Ia terus berjalan dengan tanpa mampu lagi membedakan ramai juga sepi. Terus menengadah ke langit, berharap menurunkan petuahnya. Dalam perjalanan menemukan makna hidup yang mungkin tak pernah ia dapatkan, sepi menjadi temannya yang sejati. Sesekali ia menengok ke belakang, mengembang senyumnya, cepat-cepat ia menghadapkan wajahnya ke depan, dan terus berjalan. Dan satu lagi: Ia tak pernah mengutuk hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s